“Fenomena Lipstick Effect yang Lagi Kena Banget di Gen Z"


 


“Uang di rekening tinggal tipis, tapi lip tint baru tetap masuk keranjang kuning.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar familiar di kalangan anak muda sekarang. Di tengah harga makanan naik, biaya hidup makin mahal, dan tren “hemat dulu” ramai di media sosial, banyak Gen Z justru masih rutin membeli produk kecil seperti lip balm, lip gloss, parfum mini, skincare, sampai kopi favorit mereka.

Fenomena ini dikenal sebagai lipstick effect.

Istilah tersebut merujuk pada kebiasaan masyarakat membeli “kemewahan kecil” saat kondisi ekonomi sedang sulit. Dibanding membeli tas mahal atau liburan besar, anak muda memilih self reward yang lebih murah tetapi tetap memberi rasa senang secara instan.

Saat ini, fenomena tersebut makin terlihat jelas di media sosial.

Di TikTok, video bertema “racun skincare”, “what’s in my bag”, atau “daily essentials” terus membanjiri FYP. Produk seperti lip oil, cushion, body mist, hingga parfum lokal viral hanya dalam hitungan hari. Banyak anak muda membeli produk bukan karena habis, tetapi karena takut tertinggal tren atau ingin ikut merasakan pengalaman yang sama dengan influencer favorit mereka.

Menurut laporan Vogue Business, Gen Z cenderung tetap mengeluarkan uang untuk produk kecantikan dan self care meskipun mereka mengurangi pengeluaran besar lainnya. Produk-produk ini dianggap sebagai bentuk “pelarian kecil” dari stres akibat tekanan hidup modern.

Fenomena ini juga dekat dengan budaya healing kecil-kecilan yang sekarang populer di kalangan anak muda.


Alih-alih liburan mahal, banyak orang memilih checkout lip cream Rp79 ribu, beli parfum mini, atau ngopi setelah jam kerja sebagai bentuk self reward. Meski terlihat sederhana, kebiasaan ini memberi efek psikologis yang membuat seseorang merasa lebih tenang dan “punya kontrol” di tengah tekanan hidup.

Di Indonesia, tren ini makin kuat karena didorong budaya FOMO (fear of missing out). Saat satu produk viral dan muncul terus di media sosial, banyak orang merasa harus ikut membeli agar tidak dianggap ketinggalan.

Apalagi sekarang muncul istilah-istilah seperti:

  • “Cewek minimal harus punya lip combo”
  • “Skincare wajib anak kantor”
  • “Parfum penambah aura”
  • “Bedak yang bikin wajah clean girl look”
  • "Kopi Kekinan wajib tiap hari"

Standar gaya hidup digital seperti ini membuat produk kecantikan berubah bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga bagian dari identitas sosial anak muda.

Menurut laporan Kompas.com, pengeluaran masyarakat untuk produk perawatan diri masih cukup stabil meskipun daya beli sedang melemah. Hal ini menunjukkan bahwa produk self care kini dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan hanya kebutuhan penampilan.

Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa kebiasaan belanja impulsif karena tren bisa berdampak buruk jika tidak dikontrol. Pengeluaran kecil yang terasa “cuma segini” bisa menumpuk tanpa disadari, apalagi dengan kemudahan fitur paylater dan flash sale.

Meski begitu, lipstick effect menunjukkan satu hal penting tentang generasi muda hari ini: di tengah hidup yang serba mahal dan penuh tekanan, kebahagiaan kecil tetap jadi sesuatu yang dicari. Dan kadang, rasa senang itu datang dari lip gloss baru yang lewat di FYP.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar